Featured

First blog post

This is the post excerpt.

Advertisements

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Rindu, Pulanglah Padaku (di wattpad)

Senja itu indah. Namun ia selalu menyimpan sejuta rahasia. Beberapa tawa dan segudang cerita dengan luka.

Hari ini Senja sudah siap dengan seragamnya. Sebenarnya hanya pakain biasa. Karena di tokonya memang tidak terlalu dipermasalahkan soal pakaian. Jadi, ia memilih celana jeans yang ujungnya dilipat dan kaos lengan panjang bergambar micky mouse. Serta kerudung yang senada dengan kaosnya. Warna merah muda yang terlihat memudar warnanya.

Selesai mengikat sepatu, ia pun berdiri dan menyambar tasnya. Memindahkannya ke bahunya. Berjalan gontai melewati ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang televisi dan ruang segalanya. Ya, karena memang. Kost-annya tidak terlalu besar. Hanya dua buah kamar, satu kamar mandi, ruang tamu, dan dapur yang langsung terhubung dengan ruang tamu.

Sebenarnya itu seperti bukan kost-an. Karena memang itu rumah yang sengaja dikontrakkan kepada Senja. Dan kebetulan saat itu Senja sedang membutuhkannya. Untung saja masih ada orang berbaik hati di bumi ini. Ya, seperti pemilik rumahnya ini. Dengan berbaik hati menawarkan rumahnya karena saat itu Senja kebingungan mencari kost-an.

Rumah pemiliknya pun tetanggaan dengannya. Berada di sebelah rumah kontrakannya.

“Key, aku duluan ya!” teriak Senja sambil melangkah.

Tanpa ada persetujuan dari Keysa. Senja sudah pergi meninggalkan pelataran rumahnya. Ia memang jarang berangkat bersama dengan Keysa saat hendak kerja. Ya, karena mereka berbeda kerjanya. Walau sebenarnya lokasinya searah meski lebih jauh lokasi Keysa. Tapi mereka jarang bersama. Mengingat Keysa kadang suka dijemput oleh pacarnya yang kebetulan satu pekerjaan dengan Keysa.

Sampai di tempat penungguan bus. Senja mengutak-atik ponselnya sambil menunggu. Menuliskan beberapa patah kata yang membuatnya tersenyum sendiri. Dan menimbulkan tanya di sekitar orang yang melihatnya.

“Eh neng ayo. Busnya udah datang!” seru ibu-ibu berbaju longgar. Yang mirip seperti gamis.

Senja menoleh. Kemudian mengangguk dan melangkah masuk ke dalam bus setelah memberikan senyuman pada si ibu tadi.

Mencari tempat duduk. Ah sebelah sana. Senja pun duduk di bangku keempat dari depan. Bus pun kembali melaju ke arah tujuan.

|||

“Hey, kemana aja baru nongol?” baru saja ia masuk ke dalam toko. Sudah disuguh pertanyaan.

Senja hanya nyengir. Ia memang bisa sesuka hati masuk kerja di toko kue ini. Ya, mengingat bosnya adalah temannya Keysa. Dan kata Keysa dia menyukai Senja saat pertama kali melihatnya bersama Keysa di toko buku. Yang saat itu Keysa janjian akan pergi bersama temannya. Tanpa Senja tahu ternyata Keysa sudah mengenalkannya pada Alvaro. Dan saat itulah ia menyukai Senja.

“Ditanya malah senyum-senyum. Kamu masih waras ‘kan Ja?” Siti, teman kerjanya itu mengibaskan tangannya di depan muka Senja.

“Eh, iya dong masih waras. Kalau enggak mana bisa kerja.”

“Takutnya aja. Beberapa hari gak masuk eh tahunya udah gila.”

“Hus.. kamu ini. Sembarangan aja. Udah ah mau kerja. Aku simpan tas dulu ya?!” Senja berlalu ke arah belakang. Dimana terdapat ruangan kecil tempat karyawan berganti atau sekadar merebahkan diri.

“Nanti pak Alvaro ke sini lho Ja!” teriak Siti yang diselingi kikikannya. Ia memang sering menggoda Senja perihal bosnya itu. Ya, bagaimana ia tidak curiga terhadap bosnya itu. Alasannya selalu tidak logis kalau menyangkut masalah Senja.

Senja yang bisa kerja kapan aja. Bebas masuk jam berapa aja. Sedang gajih tetap mengalir. Aneh bukan? Dan itulah yang membuat Siti curiga pada bosnya. Walau selalu saja Varo mengelak dengan alasan karena Senja ingin lebih fokus nulis. Cih, modus.

“Ja nanti si bos datang.” ulang Siti setelah Senja menghampirinya lagi.

“Ya terus? Masalah sama aku? Lagipula ‘kan ini tokonya. ”

“Ah, kamu ini gengsinya tinggi. Masih mikirin mantanmu ya?” seketika bayangan Reno kembali hadir dipikirannya.

Sudah sejak pertemuannya dengan Reno. Ia menjadi agak berbeda. Sering tersenyum dan bersikap aneh. Dan sikap Reno juga yang menunjukan sikap pedulinya lagi pada Senja. Itu yang membuatnya harus kuat menahan erangan di hatinya. Pura-pura tidak terpengaruh pada rayuan Reno.

“Heh? Kamu ini banyak melamun ya Ja!” Shit. Senja menoleh ke arah Siti dan menggeleng.

“Enggak. Aku udah gak mikirin dia. Lagipula, dia cuma mantan. Usah dipikirin. ”

“Bukannya kamu udah…” ucapan Siti terpaksa terputus karena kedatangan seseorang di balik pintu kaca itu.

Dia berjalan menghampiri kedua manusia yang tengah menatapnya. Aneh.

“Ada apaan sih? Serius kayaknya?”

“Eh.. enggak kok.” Senja gelagapan.

“Itu bos. Dia belum move on. ” seringai jahat muncul di balik senyuman Siti.

Ish, Senja hanya bisa menggerutu di dalam hati. Betapa gilanya teman kerjanya ini.

“Oh. Masih mikirin mantan. Cih,masih zaman ya.” sindir Varo yang berhasil menohok hatinya.

“E..nggak kok Ro. Siti mah bicaranya asal terus!”

“Serius juga gak masalah!” Senja mendengar ada nada berat dan kesal di setiap ucapan Varo. Ia tahu, pria yang berada di depannya itu. Sedang cemburu.

Senja menunduk malu. Sedang Siti sudah sejak tadi ia berlalu dan lebih memilih menghampiri pembeli. Udah bikin masalah. Malah pergi.

“Ro bukan gitu. ”

“Senja. Itu hak kamu. Lagipula hak aku cuma mencintai kamu. Bukan melarang kamu untuk tidak mencintai orang lain. ”

“Varo.. aku.. ” ucapan Senja terpotong oleh sanggahan Varo.

“Udahlah Nja. Aku paham situasi kamu. Aku gak bakal maksa kamu. ” pria berusia dua puluh lima tahun itu berlalu dari hadapan Senja. Dan meninggalkan Senja dengan sejuta kekesalan dan kebodohannya.

Baru saja hendak berbalik. Ia sudah dikagetkan oleh selulernya yang bergetar. Dirogohnya dari tas selempangnya itu.

From: Reno Adiwijaya

Sore ini. Lihat senja bersamaku ya. Jangan menolak.

¤¤¤¤

¤04¤

¤¤¤¤

__________________________

Note:

Teruslah melangkah dalam hidup ini. Jangan tersendat hanya oleh satu masalah.

Percayalah. Hidup akan bahagia jika dijalani. Sekalipun itu penuh duri.

Simpan cerita ini di daftar bacaan kalian ya. Dan kasih bintang buat aku.tak usah yang jauh. Yang dibawah sana saja. ☆↓↓

Ikutilah kemana Senja akan bercerita. Memekikan setiap luka atau menorehkan tinta penuh derita.

Semua misteri biar menjadi bagian dalam hidup ini. Jangan menangis terlalu dalam. Cukup mengingat lukanya lalu kau berlalu tinggalkan.

Ruang rindu, 21 Maret 2018

Unname

[9:45 am. WIB]

Haiii… itu adalah cuplikan ceritaku di wattpad.

Dengan link :klik.

https://my.w.tt/NNoKNZwrwLRindu, Pulanglah Padaku.

disini.

Bantu baca ya. Dengan nama akun

@sejutasenja

Rinduku Hanya Untukmu

Rinduku hanya untukmu. Bukan untuk masalalu. Ataupun lelaki di masa peralihan.

Gadis berambut hitam yang panjangnya sudah sepunggung itu masih memainkan jemarinya di layar selulernya. Yang entah buatan mana dan bergaransi berapa tahun.

Sesekali ia menulis beberapa kata yang berhasil membuatnya terkikik atau bahkan tertawa sendirian. Ah, beginikah efek jatuh cinta?

Padahal ini bukan kali pertamanya. Ini adalah masa peralihan. Dari duka menjadi tawa. Berubahlah menjadi sebuah kata yang orang sebut dengan ‘cinta’.

Helaian rambutnya yang kadang menjuntai ke wajahnya. Ia singkirkan dengan tangannya yang mungil itu. Tak mau ada penghalang ketika ia membaca setiap pesan dari sang pujaan.

I’m fall in love again mom.

Senja, gadis yang cerewet minta ampun. Hobinya suka tidur tapi juga suka begadang sampai subuh. Sampai dia harus berpura-pura tidur kala orang tuanya mengintip dibalik tirai.

Gadis dengan kadar kenormalan yang entah berada diberapa persen itu kini tengah merasakan jatuh cinta lagi. Yang kedua kali. Ia sebenarnya tak menyangka akan kembali jatuh cinta lagi. Setelah dua tahun berada dalam masa kegalauannya.

Gadis berlesung pipi yang tak terlalu nampak itu. Kini, kembali berikrar. Di bawah naungan sang rembulan. Di saksikan rerumputan yang bergoyang. Dan dihadiri oleh sejumlah semut kecil yang gigitannya menyakitkan.

Bahwa ia kembali merasakan jatuh cinta. Kepada orang yang berbeda.

Cinta itu rumit. Tapi, kamu mempermudahnya. Hingga kupikir, tak apa jika aku mencintaimu.

Hari ini, Senja yang biasanya hanya tiduran di kamar. Sekarang ia melakukan aktivitas lain. Ya, aktivitas yang menurutnya sebuah kewajiban.

“Aktivitasku ya merindukanmu. Itu sudah kegiatan dalam hariku.”

“Lho kenapa? Gak bosen rinduin aku?”

“Bosen sih. “

“Kok gitu?”

“Bosen karena bisanya cuma rindu. Tanpa bisa ketemu.”

Ia membalikkan tubuhnya ke samping kiri. Setelah merasa pegal karena menghadap ke arah kanan terus.

Ah, jadi nambah rindu.

Senja tersenyum sendiri mengingat percakapannya dengan dia. Rasanya ingin ia menjerit. Aku rindu pak bos.

“Pak bos aku kayaknya rindu. Boleh ya?”

“Rindu lagi?”

“Hoh nih. Ketemu makanya biarku tak rinduu.”

“Aduhh kayaknya aku udah bener gila deh. Dasar pak bos aneh, jahat ah dia. Bikin aku rindu terus. ” ia tertawa sendiri. Sepintas beberapa kenangan tentang rindunya bermunculan.

Pipinya memerah kala tak sengaja mengingat betapa konyol dirinya di hadapan teman spesialnya itu.

“Kita bukan pacar. Tapi kita adalah dua pasang manusia. Yang akan berjodoh. Hihi” ia terkikik geli. Bagaimana bisa ia berkata begitu pada dirinya sendiri.

Kita memang bukan sepasang kekasih. Tapi merindukanmu boleh kan?

“Kamu rindunya sama siapa aja ?”

“Banyaklah. Sama pohon yang di sekolah. Sama penjaga kantin. Sama guruku. Sama seragam sekolahku. Sama uang sakuku. Semuanya rindu.”

“Kalau sama mantanmu?”

“Ya rindulah.”

“Tapi, dari semua itu. Yang paling kurindukan hanya kamu.”

“Masa?”

“Iya lah pak bos. Rinduku cuma untukmu. “

Kelanjutannya nanti ya. Tunggu aja. Tapi, kumohon jangan merindukanku.

Karena aku sudah dirindukan oleh pak bosku.

Ruang rindu, 23 Maret 2018

Senja Mentari

8:09. Pm. Wib

Seseorang di Ruang Rindu

Cerita singkat dariku. Untuk seseorang yang kini berada di ruang rinduku.

Created by: Sejutasenja

Bukan untuk masa lalu. Tapi untuk kamu jodoh di masa depanku. Namamu masih kusimpan rapat di ruang bernama rindu. Dan kelak, akan kubongkar saat janurku sudah terkulai di gang jalan.

Baca setiap yang kutulis. Agar kamu tak meringis. Jangan pernah menangis. Masih ada aku yang manis.

_________________________

Seseorang di ruang rindu

By: Sejutasenja

Tanpa kamu sadari. Kamu sudah buat hatiku jatuh cinta lagi.

“Lo kenapa sih Ja? Gue heran ama lo?” gadis yang merasa namanya disebut hanya menoleh sambil mengerutkan kening.

“Apanya yang aneh? Aku biasa aja kok!” elaknya.

“Lo tuh aneh. Udah beberapa bulan ini lo jadi lebih senyum sendiri. Dan sialnya, kelakuan lo nambah gila!” tandas gadis berwajah agak bulat itu.

Si korban hanya mendengus pasrah dengan pernyataan sahabatnya ini. “Apaan sih. Lagian ya, sahabat lagi bahagia itu harusnya lo juga bahagia. Bukan malah ngatain gue gila!” amarahnya kini memuncak. Walau ia tak seluruhnya kesal pada sahabatnya itu.

Ia tahu, kalau sahabatnya itu hanya bergurau dalam mengatakan bahwa ia nambah gila.

“Lo sekarang udah agak beda. Temen lo sekarang ponsel lo Ja. Bukan gue lagi!” paraunya. Sedang Senja hanya menoleh gusar. Ia tak menyangka sahabatnya itu akan berkata seperti itu.

“Eh.. Rin kamu ‘kan tahu kalau aku gak pernah suka chattan sama temen sekelas. Aku lebih sukanya bercanda langsung. Daripada ngobrol di whatsapp. ” jelasnya. Ririn, sahabatnya itu mengangguk mengiyakan.

Senja memang pribadi yang tidak suka bergurau di pesan jika itu bersama teman sekelas ataupun orang yang berada di lingkungannya. Terkecuali sesekali.

“Terus. Siapa dia?” Ririn mengalihkan topik.

“Siapa apanya? Kamu kalau bicara yang jelas dong. ”

“Bacot lo! Pura-pura bego! Gue tahu, lo tahu maksud gue apaan tadi. Jadi, siapa cowok yang berhasil buat lo jadi nambah gila akhir-akhir ini?” mata Ririn menatap nakal. Keningnya naik-turun.

Senja hanya tersenyum polos dan penuh keluguan. “Basi, muka sok imut lo gak bakal bikin gue alihin topik. Jadi mendin jawab! Sebelum gue teriak ke anak kelas kalau lo masih belum move on!

“Aku udah move on !” tak kalah sengit ia menjawab.

“Ya ya, jadi cepet siapa cowok yang udah bikin lo move on dari cowok photografer itu?”

“Dia ada, masih kusembunyikan. ”

“Namanya? Langsung aja kali Ja. Gue juga gak bakal rebut kali!” Ririn kali ini sudah habis obat kesabarannya. Sahabatnya itu benar-benar menguji kesabarannya dalam hal ke-kepoan.

“Kan udah ku kasih tahu dia ada. Untuk namanya, masih kusembunyikan. Nanti kamu juga lihat di surat undangan. ”

“Hmm..”

“Rin, yang pasti dia sekarang lagi ada di belahan bumi ini. Tinggal di salah satu pulau. ”

“Terus dianya gimana ke lo? Inget ya Ja, lo itu korban sakit hati. Bahkan gue gak percaya kalau lo jatuh cinta lagi. Bahkan gue juga gak nyangka lo bisa lupain kenangan lo ama mantan lo itu. ”

“Aku gak lupain kenangan itu. Itu akan selalu ada di hidup aku. Menjalar sampai ke masa depan. ”

“Lah.. terus dia yang sekarang gimana? Jangan lo jadiin pelampiasan hati lo!”

“Aku gak berniat begitu. Walau niat diawal aku gak terlalu memakai hati dan perasaan. Bahkan karena efeknya aku masih belum move on, aku chattan sama dia tuh serasa seperti chattan sama Farhan. ”

“Karena sama jauhan ya?” Senja mengangguk.

“Terus gimana ceritanya lo bisa jatuh cinta sama dia? Dalam waktu secepat ini. ”

Senja menghela napas. Memang sulit membuktikan ini cinta atau bukan. Karena ia diawal juga kesulitan dalam melupakan. Sangat aneh memang jika Senja yang selama dua tahun ini tidak bisa move on lalu sekarang ia mengatakan kembali jatuh cinta.

“Rin, bukankah cinta itu datang bisa kapan aja? Dimana saja dan terhadap siapa saja?” Ririn yang sedikit tak mengerti terpaksa menganggukan kepalanya. Karena tak sabar ingin mendengar kelanjutan kata-kata puitis dari sahabatnya itu.

“Nah, itu juga terjadi padaku. Aku yang selama dua tahun belum bisa melupakan dan harus perih menahan sakit. Kini, Tuhan kirimkan kebahagiaan dalam waktu ketika aku masih merasa sakit.”

“Terus hubungannya ama opsi pertama lo apa toing?”

“Dia datang padaku dalam waktu yang tak terduga. Cintaku juga datang tak terduga padanya. Tapi, aku pikir. Cinta tak memandang waktu. ” tuturnya. Senja menyesap kopi pahitnya lagi. Entah untuk yang keberapa kali.

“Cinta itu gak ditentukan oleh seberapa lama dia hadir dalam hidup kita. Karena cinta tak mengenal waktu dan tak melihat arah jarum jam. Jadi, ia bisa hadir kapan saja. ” ia menghela napas berat. Keputusannya memang sudah benar.

Sekalipun ini bukan cinta. Kan kubuat hatiku percaya. Bahwa sulit untuk membuka hatiku yang kedua kalinya. Dan dia sudah berhasil membuka pintu hatiku lagi.

“Termasuk pergi sesuka hati. Kayak mantan lo itu!”

“Udahlah. Aku malas membahas halaman lama. Lagipula sudah penuh dengan coretan luka. ”

Kini aku hanya ingin menulis cerita di halaman baru. Bersama dia. Seseorang di ruang rindu.

“Iya, bagus deh kalau lo udah sadar. Hidup lo terlalu memuakan.”

“Sial lo, dasar temen laknat!”

“Hahaha. Gue ada bahan gosip nih sekarang.” Ririn tertawa melihat tingkah sahabatnya ini.

“Senja yang gila ini. Sedang jatuh cinta lagi. Sama pria asing yang katanya ada dipulau mana?”

“Itu rahasia. Nanti juga tahu. ”

“Eh. Rin, jangan gosipin aku. Aku gak mau ya, nanti orang pada tahu.”

“Lah kenapa? Lo masih berharap ama si Farhan?”

“Bukan gitu toing. Dia itu terlalu spesial. Jadi, aku mau kasih tahunya juga di acara spesial.”

“Ck..ck..masih jadi ABG labil aja udah bahas gituan!”

Ririn berlari meninggalkan Senja bersama kopi pahitnya.

“Biarin aja!” teriak Senja yang masih terdengar oleh sahabatnya itu.

“Dandan dulu baru mikirin nikah!” kali ini Ririn benar-benar sudah menjauh dari Senja. Membiarkan Senja menghirup kopinya di bawah pohon yang sering ia kunjungi ketika hatinya sedang sedih.

Tapi, kali ini ia datang bukan untuk menceritakan lukanya karena ia sakit hati akan perjuangannya. Kali ini, ia datang untuk berbagi kabar gembira. Kabar bahwa hatinya telah jatuh cinta lagi.

“Hubungan kita memang aneh dan tak berkejelasan. Tapi aku ramal kamu jodohku di masa depan. ”

_________________________

Kepada kamu lelaki berlesung pipi. Yang kusembunyikan saat ini. Ketahuilah , hatiku tak mudah untuk jatuh cinta lagi.

Setelah terluka satu kali. Tapi, kamu berhasil membuka hati yang beku ini.

Diriku memang tak seperti masalalumu. Yang mencintaimu dengan cara yang romantis.

Aku hanya ingin mencintaimu dengan caraku. Sejuta cinta dan segudang tawa.

Hingga tak akan ada alasan lagi. Untuk kita merasakan luka.

Ruang rindu, 23 Maret 2018

Senja

[9:13 am. Wib]

Air Mata yang Kering

Senja sudah tidak lagi menunggu senjanya. Kini ia sudah terbaring lemah di atas kasur kesayangannya. Sudah dua tahun ia tak kembali ke sana, sekadar menanti senja tenggelam dan menunggu dia kembali dalam pelukan.

Lelaki yang ditunggunya tak kembali jua setelah delapan tahun ia tunggu: enam tahun bersama senja dan dua tahun berada di kasurnya. Selama itu kah ia menunggu lelaki lesung pipi itu. Janjinya juga sudah ia lupakan. Ia tak peduli lagi dengan kata apa yang pernah sang pujaan lontarkan.

Kini, baginya hanya perlu bangun dari kesedihan. Air matanya sudah kering sejak senja terakhir itu. Ia sudah hapus tuntas butiran itu dari pelupuk matanya. Berganti dengan lamunan menyakitkan.

Tak bisa dipungkiri kalau senja masih ingin menunggu senjanya di pantai itu. Merasakan desiran ombak yang pasang surut menghampiri lalu pergi lagi.

Tapi sayang, tubuhnya sudah rapuh bersama hatinya. Dua tahun terakhir setelah ia pergi dari pantai itu. Senja mengalami kecelakaan, tubuhnya terpental oleh kendaraan beroda empat itu. Hingga menyebabkannya koma selama satu minggu.

Masa kritis terlewati, dan kini lihatlah dirinya. Sebab kecelakaan itu ia hanya terbaring lemah di ranjangnya. Kakinya lumpuh dan tak membisakannya untuk beranjak kemana-mana. Walau itu hanya sekadar menengok senjanya di upuk Barat.

Kejadian inilah yang membuatnya tersadar bahwa air matanya terlalu mahal untuk sebuah kekonyolan. Kering sudah butiran kristal itu. Jauh menggelinding bersama harapan yang hilang.

Kini ia hanya pasrah pada takdir. Jika memang Rian Rendra itu jodohnya. Mungkin kelak ia akan kembali ke senjanya. Tuk menghapus lara yang sejak delapan tahun ini ia habiskan untuk berharap padanya.

Tuk sekadar duduk berdua lagi memandangi senja di upuk Barat. Dengan tangan saling menggenggam dan memberikan kehangatan yang menjalar.

Rian Rendra datanglah kemari. Temui aku yang lara ini.

Tak ingatkah dulu kita pernah berjanji . Kamu akan kembali.

Bunihayu, 20 Februari 2018.

Salam, Gasera.